Bare Minimum Sebagai Tolak Ukur Nilai Diri dalam Menjalin Hubungan
Belakangan ini, istilah asing kian marak digunakan dalam berkomunikasi terutama di sosial media. Kosakata asing ini kebanyakan mendefenisikan suatu maksud atau kondisi tertentu yang agak sulit digambarkan dalam Bahasa Indonesia. Salah satu istilah asing yang kerap mewarnai laman sosial media adalah Bare Minimun. Lantas, apa maksud istilah ini?
Istilah bare minimun jika
diterjemahkan secara langsung berarti “minimal”. Lebih jauh, bare minimun
adalah kondisi di mana seseorang melakukan hal-hal yang memang sudah seharusnya
dilakukan kepada pasangan. Dalam sebuah hubungan, bare minimum dapat
dikatakan sebagai standar perilaku antar pasangan. Istilah ini sebenarnya tidak
hanya merujuk pada hubungan romantis lawan jenis seperti suami-istri atau
pasangan kekasih. Tapi juga hubungan persaudaraan, persahabatan dan orang
tua-anak. Walau memang bare minimum kebanyakan selalu berkaitan dengan
hubungan lawan jenis.
Penggambaran perilaku antar pasangan yang sesuai standar bare minimum sebernanya bisa berbeda setiap orang. Namun ada beberapa sikap bare minimun yang umum terjadi pada hubungan. Mengutip dari beberapa sumber, contoh bare minimum dalam hubungan yang sehat yaitu setia, berkomitmen, dapat mengendalikan emosi, komunikasi yang baik, dan saling menghargai antar pasangan.
Apakah bare minimum perlu diapresiasi?
Beberapa orang menganggap memperlakukan pasangan sesuai “standar” umum adalah hal wajar sehingga tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Namun perlu diketahui bahwa bare minimum pada hakikatnya bersifat subjektif. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman dan lingkungan yang membersamai individu selama hidupnya. Kita ambil contoh soal kesetiaan. Seseorang yang pernah atau mungkin beberapa kali menjadi korban perselingkuhan, ketika mendapatkan pasangan yang setia akan merasa itu adalah hal yang luar biasa dan sikap yang diperjuangkan sedemikian rupa sehingga cenderung mengapresiasi secara berlebihan. Contoh lain ketika seseorang kerap mendapatkan kekerasan verbal dari orang sekitarnya, ketika mendapatkan pasangan yang bertutur lembut dia akan merasa nyaman dan amat bersyukur sebab tak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Nah, sebab pengalaman dan lingkungan antar individu berbeda-beda, tentu akan berbeda pula karakter, preferensi, dan interpretasi mereka mengenai suatu hal. Termasuk menetapkan standar bagaimana mereka ingin diperlakukan dan memperlakukan pasangan dalam sebuh hubungan.
Jadi sebenarnya tidak ada yang salah jika memang ingin mengapresiasi sikap pasangan walau bare minimumlah yang dilakukannya. Terlebih jika kita menilik fakta bahwa dewasa ini nilai dasar kebaikan manusia sudah mulai luntur. Mencari pasangan yang sesuai standar selayaknya bersikap menjadi sedikit sulit.
Mengenal nilai diri dalam menjalin hubungan
Pada dasarnya setiap manusia berharga dan layak dierlakukan dengan baik. Meskipun bare minimum memang memiliki versi masing-masing tergantung individu, sejatinya hal ini adalah sikap fundamental yang harus dimiliki sebagai manusia yang berbudi. Menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki sikap bare minimum memang baik. Akan tetapi akan bukankah lebih baik jika mendapat hal yang lebih dari itu?
Oleh karena itu, penting bagi kita mengenal nilai diri agar dapat menjalin hubungan yang sehat. Menyadari dan meyakini bahwa kita adalah manusia yang bernilai adalah salah satu bentuk mengahargai diri. Berangkat dari hubungan toxic yang menyesatkan dan tunjukkan bahwa kita pantas untuk segala hal-hal baik di dunia. Mencintai diri lebih dalam berarti membuka jalan untuk kita dicintai pasangan dengan segenap jiwa.

Komentar
Posting Komentar