Menilik Kembali Budaya BIM (Bias Is Mine) dalam Dunia K-POP
Penyebaran budaya Korea atau yang kita kenal dengan Korean wave telah lama menunjukkan peran dan eksistensinya secara global di seluruh dunia. Dimulai dari era pemerintahan Presiden Kim Dae Jung (1993-1998) dengan slogan politiknya yaitu “Creation of the New Korea”, Negeri ini berhasil melakukan ekspor budaya ke pasar internasional dengan mengedepankan akulturasi budaya tradisional dan modern.
Indonesia sendiri tak luput dari pengaruh penyebaran budaya Korea tersebut. Momentum Piala Dunia 2002 Korea dan Jepang yang disiarkan di stasiun televisi tanah air menjadi cikal bakal tumbuhnya minat terhadap seni dan hiburan asal negeri ginseng ini. Nah, salah satu yang paling unggul adalah Korean Pop atau K-Pop. Sebagai salah satu produk seni dan budaya, K-Pop terus berbenah secara kreatif dan inovatif agar dapat menggaet penggemar dari generasi ke generasi. Tak dapat dipungkiri, K-Pop kini telah mendapat perhatian yang tinggi dari masyarakat kita, terutama oleh anak-anak muda.
K-Pop identik dengan grup musik yang
beranggotakan banyak orang. Genre musik yang diusung K-Pop mayoritas adalah up-beat
dengan para anggota grup menyanyi dan menari dengan koreografer yang energik.
Proses pembentukan grup K-Pop dilakukan oleh sebuah agensi hiburan. Pihak
agensi akan mengadakan audisi untuk mencari para talenta muda lalu membekali
mereka dengan berbagai macam pelatihan keterampilan, kepribadian, dan tata
krama. Mereka yang lulus pelatihan kemudian didebutkan menjadi boygroup/girlgroup
di bawah label agensi.
Tentunya sebuah agensi hiburan
memiliki cara tersendiri agar boygroup dan girlgroup besutannya
dapat bersaing dan mendapat tempat di hati penggemar. Namun sayang, beberapa
cara yang diusung malah menciptakan kultur fans yang tidak sehat. Tidak sedikit
masyarakat Indonesia yang menyematkan stigma negatif kepada para penggemar K-Pop.
Mereka dianggap tertalu fanatis, tukang halu, serta gemar berfoya foya.
Perdebatan sengit antara penggemar kpop dan bukan penggemar kerap menghiasi
laman sosial media. Memang, tidak semua penggemar K-Pop berlaku demikian, namun
label miring tersebut sebagian benar adanya.
Salah satu kultur fans negatif yang secara tidak sadar dibentuk agensi adalah bias is mine. Secara bahasa frasa ini berarti bias adalah miliku. Bias sendiri adalah anggota paling favorit dalam sebuah grup dan para penganut kultur ini menganggap bias mereka adalah milik mereka seorang. Mereka akan marah ketika bias mereka ketahuan kencan dengan lawan jenis bahkan tak segan melempar komentar negatif dan ujaran kebencian kepada pria atau wanita yang menjadi kekasih sang idol. Ada juga yang disebut sesaeng fans, yaitu sekelompok penggemar yang kerap menguntit kemanapun idola mereka pergi. Sikap agresif dan obesif sesaeng fans ini tidak hanya dapat menganggu ruang privasi sang idola, namun juga ketertiban umum. Hal ini tentulah sangat merugikan banyak orang.
Bagaimana kultur penggemar ini dapat terbentuk?
Seperti yang telah dijelaskan di awal, kultur fans yang tidak sehat dibentuk secara tidak sadar oleh agensi yang menaungi grup tersebut. Agensi akan membuat image calon idol seolah olah mereka adalah “pacarnya fans”. Mereka akan dilatih untuk melakukan fanservice berlebihan dan melakukan interaksi dengan unsur romantisme kepada fansnya. Hal ini tentu saja memicu ilusi tidak wajar kepada fans sehingga mereka akan menganggap sang idola benar benar pacar mereka. Jika hal ini dibiarkan, mereka dapat terjebak dalam fanatisme dan obsesi berkeanjangan sehingga berani melakukan hal berbahaya demi menjalin hubungan nyata dengan idolanya.
Kita semua tentu sepakat bahwa dunia hiburan sejatinya adalah ladang bisnis. Pembentukan karakter dan image idol yang dilakukan oleh agensi adalah sebuah strategi pemasaran agar dapat memikat hati lebih banyak penggemar sehingga meningkatkan penjualan. Padahal jika sebuah grup K-Pop mampu menghasilkan karya yang berkualitas tanpa harus repot repot membangun konsep “pacarnya fans”, mereka akan tetap eksis sepanjang masa dan tidak akan pernah kehilangan penggemar.
Bagaimana jika seorang idol terlanjur memiliki pacar?
Seperti yang sudah kita bicarakan di
awal, fans yang menganut kultur BIM tidak dapat menerima idolanya
berpacaran dengan pria atau wanita lain. Mereka menganggap idol yang berkencan
merupakan sebuah bentuk pengkhianatan kepada penggemarnya. Hal ini menumbuhkan
kebencian fans kepada pacar sang idol.
Tak hanya pacar, sang idol itu sendiri pun tak luput dari sasaran amukan para fans BIM . Mereka tak segan melontarkan ujaran bernada kebencian, meminta sang idola keluar grup, bahkan mendoakan sang idolanya mati. Tuntutan dan ekspektasi fans yang tidak bisa dipenuhi akan berujung depresi hingga para idol pada akhirnya benar benar memilih mengakhiri hidup.
Tak dapat dipungkiri, kultur BIM ini telah mengakar dalam dunia per-fandoman dan sangat sulit di hilangkan. Berdasarkan pengalaman saya menjadi fans K-Pop selama hampir 6 tahun, budaya BIM lebih banyak dianut fans lokal Korea Selatan. Fans internasional, termasuk Indonesia cenderung lebih menerima dibanding fans lokal yang bertindak lebih agrasif dan brutal jika mendengar kabar idola mereka berkencan.
Nah, sebagai tempat para idol bernaung
dan berlindung dari ganasnya fans, agensi sebenarnya memberikan solusi
agar idol besutan mereka ‘aman’ ketika memutuskan untuk berkencan.
Memang, beberapa agensi melarang artis mereka berpacaran sampai usia grup 4
tahun. Namun, idol adalah manusia dewasa yang pasti memiliki hawa nafsu
kepada lawan jenis. Maka sebagian lain agensi memfasiliasi mereka untuk
berkencan namun dengan syarat tidak terendus media. Jika para idol ini
memang berkeinginan membuka hubungan mereka kepada publik, mereka harus
melakukannya ketika grup mereka sudah berusia di atas 4 tahun.
Saya pribadi setuju akan tindakan
agensi yang meminta artis naungan mereka ini tidak membuka hubungan romantis
kepada publik sebelum waktunya. Sebab ketika
fans sudah bereaksi negatif terhadap pribadi idol
tersebut, maka akan berimbas pada pencapaian si idol kedepannya. Rekan
satu grup yang tidak terkait akan dirugikan dan karier mereka akan terancam.
Reaksi negatif publik ini tidak dapat kita atur namun idol bisa
mengontrol diri mereka untuk tidak go public dulu kalau mereka masih rookie
(baru debut).
Selain itu, ketika idol rookie
memutuskan untuk go public apalagi ketika grup mereka sedang berada di
puncak ketenaran, media dan masyarakat umum yang bukan fans cenderung
akan lebih tertarik dan menyoroti kehidupan percintaan sang idol daripada karya
mereka. Musik dan lagu yang sudah mereka ciptakan sedemikian rupa kian
terlupakan dan mereka akan lebih dikenal sebagai “pacar/suami/istri A” daripada
“penyanyi lagu A”. Padahal mereka adalah seniman yang sudah selayaknya dikenal
dan diapresiasi lewat karya.
Biarlah dulu love life para idol rookie ini jadi ranah privasi mereka sementara ke publik fokusnya adalah pengembangan karier. Branding grup dan personal dikuatkan dahulu sampai karier mereka stabil, grup nya sudah punya nama, dan membernya sudah bisa bersinar tanpa embel-embel grup. Nah ketika grup mereka sudah “besar”, maka fans yang membersamai mereka akan ikut tumbuh dewasa sehingga dapat lebih menerima dan siap kalau mereka go public.
Tentunya sulit bagi para idol ini untuk berkencan secara gerilya dan lolos dari kejaran media. Namun itu adalah sebuah konsekuensi ketika mereka memutuskan untuk menjadi seorang idol. Tanpa bermaksud menormalisasi BIM, upaya ini dilakukan demi keselamatan karier sang idol. Jika memang ingin benar benar menghilangkan kultur tidak sehat ini, agensi harus berani berhenti menjual konsep “idol as lovers”sebagai taktik pemasaran mereka.
Menjadi fans yang baik dan membina hubungan sehat dengan idol
“Ah idol kan cuma kerja, gak usah baper kalau dibilang i love you” atau “idol cuma mau uangmu doang
Jika sebagian pembaca adalah fans K-Pop, pasti pernah mendengar kalimat semacam ini diucapkan oleh non fans, bukan? Memang kalimat ini tidak sepenuhnya salah karena idol berkerja membuat musik, menyanyi, dan menari adalah dalam rangka mencari nafkah. Namun sebagai penikmat K-Pop, saya selalu menganggap pekerjaan menjadi idol adalah pekerjaan yang berorintasi pada jasa (service) dimana objeknya adalah hiburan. Sebagai pekerjaan jasa, tentunya fokus utama adalah melayani pelanggan yang dalam hal ini adalah fans dengan menghasilkan karya dan penampilan berkualitas.
Seorang musisi, yang dalam hal ini adalah seorang idol, tidak hanya dituntut untuk menghasilkan musik yang mempunyai nilai jual namun juga menghibur dan menyenangkan hati banyak orang. Tak hanya itu, saya kerap menjumpai fakta bahwa musik yang dibuat para idol ini tenyata berarti banyak bagi hidup segelintir penggemar.
“Ketika saya berada dalam masa sulit, musik mereka membantu saya untuk tetap hidup” begitulah kira-kira narasi yang sering diutarakan para penggemar ini. Bahkan saya juga pernah menemukan penggemar yang mengalami gangguan kejiwaan dan menjadikan musik idolanya sebagai alternatif terapi selain obat-obatan. Kita tidak dapat menampik fakta bahwa bagi seorang penggemar, mendengarkan musik idola lebih dari sekedar hiburan di waktu luang.
Untuk itulah seorang idol dan
musisi dituntut untuk menaruh “rasa” pada setiap lirik dan melodi yang mereka
buat ataupun mereka nyanyikan. Ketulusan dalam berkarya yang didasari rasa
cinta kepada para penggemar ini akan mampu menciptakan musik yang dapat
merangkul, menyentuh hati, dan memberikan banyak manfaat. Namun kita harus
paham bahwa ekspresi cinta sang idola ditujukan secara kolektif kepada seluruh
penggemar dan tidak mengandung unsur romantime. Cinta tersebut bermakna
ungkapan terima kasih atas dukungan yang
membersamai mereka dan mereka realiasikan lewat karya.
Sebagai penggemar yang baik,
menciptakan hubungan yang sehat dengan sang idola dimulai dari mengekspresikan
cinta secara positif seperti yang para idola ini perlihatkan. Selain mendukung
karya mereka, kita juga dapat belajar hal baik dari idol-idol ini. Seperti
yang kita tahu bahwa menjadi seorang idol tidaklah mudah. Perjalanan
yang mereka lalui amat panjang dan penuh jatuh bangun. Para idol ini tak
pernah lelah untuk terus belajar, tumbuh, dan berkembang sampai akhirnya berada
pada puncak kejayaan. Sikap pantang menyerah, profesionalitas, serta manner
mereka haruslah memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi
serta penuh semangat menggapai cita-cita dan menebar manfaat bagi sesama.
Sejatinya seorang idola tak ubahnya
manusia biasa yang sama seperti kita. Mereka istimewa sebab diberkahi segudang
talenta dan mampu menuangkannya melalui syair dan irama. Mereka berhak hidup
bebas tanpa belenggu obsesi fans, menciptakan ruang privasi bagi diri
sendiri, menjalin hubungan romantis dengan lawan jenis, serta membangun
keluarga. Egois sekali rasanya jika kita merampas hak mereka untuk tumbuh dan
berkembang layaknya manusia. Dukung mereka sesuai porsinya serta doakan mereka
tetap sehat dan bahagia agar dapat terus berkarya menghibur kita.

Komentar
Posting Komentar